Minggu, 12 Juli 2009

KONSEP HUKUM DAN DEMOKRASI YANG DIHARAPKAN PENERAPANNYA DI INDONESIA:

الـسَّـــلامُ عَـلَـيْـكُـمْ وَرَحْــمَــةُ اللــه وَبَـرَكَاتُـــه
. اَشْهَدُ اَنْ لا َ إِلَهَ إِلا َّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا َ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عـَلَى كـُلِّ شَيْءٍ قـَدِيْرٌ صَدَقَ اللَّهُ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهـَزَمَ الا َْحْزَابَ وَحْدَهُ ، وَاَشْهَدُاَنَّ محمدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، . اَللَّهُمَّ صَلِّى وَسَلِّمْ عـَلَى مُحَمَّدٍ وَعـَلَى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ. أَمَّابَعْدُهُ، فَيَا عـِبَادَ اللّـهِ اِتـَّقُوا اللّـهَ حَقَّ تـُقَاتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
اَمَّـا بَـعْـدُ. فيـاعـباد اللــه اوصيكــم وايــاي بـتـقـوى اللـه فـقـد فـا ز الـمـتـقـون. قـال اللـه تـعـالى فى الـقـر ان الـكـريم . اعوذ بـالـلـه من الشيطـان الرجيم. بسم اللـه ا لرحمـن الـرحـيـم. فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يـبُنَيَّ اِنِّيْ اَرَى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَادََا تَرَى قَالَ ياَبَتِ افْعَلْ مَاتُؤْمَرُ سَتَجِدُ نِيْ اِنْشَآءَ اللّـهُ مِنَ الصّبِرِيْنَ
Al-Hamd li al-Lâh, segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam. Penguasa alam semesta yang Maha Pengasih tak pilih kasih dan Maha Penyayang kepada seluruh makhlukNya. Hanya Allah yang memberi rahmat dan petunjuk kepada kita sekalian, sehingga dalam suasana Tahun Baru 1423 Hijriyah ini kita datang melaksanakan kewajiban kita yaitu Shalat Jum’at dan juga merupakan kebutuhan primer kita dalam menjalani hidup dan kehidupan di dunia ini, sebagai tanda ketaatan yang penuh tawâdhu dan khusyu kepadaNya. Demikian pula salawat dan taslim kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad saw. dan para sahabat serta pengikut-pengikutnya yang setia hingga melewati sejumlah zaman.
Alhamdu lillah, bila kita membuka lembaran sejarah kehidupan manusia yang digambarkan oleh Allah Swt. dalam al-Qur’ân al-Karim. Di dalamnya kita dapatkan sejumlah perintah Allah swt., dalam bentuk “Hukum dan Demokrasi yang dapat dijadikan pedoman dalam penegakan Hukum dan Demokrasi kepada penduduk yang mendiami negara republik Indonesia termasuk Wilayah Ampana, di antaranya:
Perintah Pertama. Perintah Allah Swt. kepada anak Nabiy al-Lâh Adam as, yaitu Qabil dan Habil untuk melaksanakan qurban.
Jika kita memaknai sejarah perilaku manusia atas kedua peristiwa qurban dimaksud, tampak 2 (dua) karakteristik manusia, yaitu: karakteristik manusia yang mengikuti keimanannya dalam menerapkan hukum Allah Swt pada dirinya di satu pihak dan Sang kakak (Qabil) di pihak lainnya tergambar karakteristik manusia yang mengikuti hawa nafsunya sehingga tidak mau melaksanakan hukum Allah yang ditetapkan baginya. Karakteristik perilaku manusia dimaksud akan selalu tampak dalam kehidupan sosial manusia pada setiap zaman. Karakteristik manusia yang mengikuti hawa nafsu adalah awal munculnya kecemburuan sosial yang berakhir dengan pembunuhan di antara anak Nabiy al-Lâh Adam as, sehingga adik dibunuh oleh kakak karena irihati. Di saat itulah awal terjadinya pertumpahan darah di dunia. Dari sini pula pengorbanan itu berawal. Allah Swt mengabadikan karakteristik peristiwa perilaku manusia berdasarkan FirmanNya di dalam Al-Qur’an:
لَئِنْ بَصَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتـَقـْتـُلـَنِيْ مَآ أَنَا بِباَصِطٍ يَدِيَ لأَِ قـْتـُلَكَ اِنِّيْ اَخَافُ اللّـهَ رَبَّ الْعلَمِيْنَ.
Sungguh, jika kakak mengayunkan tangannya untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguh-nya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam..
Dari ayat ini tampak bahwa, Sang adik (Habil) mengorbankan dirinya bersimbol darah, dan menyerahkan segala sesuatunya kepada kakak (Qabil), demi mencapai keridhaan Allah swt. semata. Selain itu, tampak pula sang Kakak dikendalikan oleh hawa nafsunya sehingga membunuh adik kandungnya atau biasa disebut dalam istilah saat ini “main hakim sendiri”.
JAMAAH JUM’AT RAHIMAKUMULLAH
Peristiwa qurban yang lain disebutkan oleh Allah dalam Alquran, kita temukan peristiwa sejarah, proses kehidupan sosok pemimpin seperti Nabiy al-Lâh Ibrahim as. dan keluarganya. Peristiwa tersebut, diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’ân al-Karîm sebagai asas, kaidah, dan pedoman dalam kepemimpinan yang dijadikan terapi demok-rasi kemanusiaan yang mengandung nilai-nilai Ilahiyah
Peristiwa dimaksud, Allah Swt menjelaskan di dalam Alquran sebagai peristiwa proses kepemimpinan Nabiy al-Lâh Ibrahim as., yang dapat dijadikan pedoman kepemim-pinan dalam perilaku kehidupan sosial politik, ekonomi, hukum dan sebagainya, maka kita temukan di antaranya sebagai berikut.
Nabiy al-Lâh Ibrahim dan keluarganya as. (Sitti Hajar dan Ismail) diperintah oleh Allah swt. untuk menyembelih anaknya, yaitu Ismail. Perintah itu harus dilakukan dengan tangannya dan di depan matanya sendiri. Ismail adalah anak yang sekian lama dirindukan kehadirannya lewat do’a tulus kepada Allah swt. yang tak pernah putus. Lalu, dengan pikiran sederhana kita akan bertanya mengapa si anak dambaan yang setelah lahir dan hingga ia berusia sekitar 10 tahun, ia harus disembelih (diqurbankan) oleh Sang ayah yang sungguh sangat mencintainya?
Nabiy al-Lâh Ibrahim as. baru menerima berita uji keimanan dari Allah menegenai do’anya yang mustajab atas keberadaan anaknya, Ismail. Kemudian tiba-tiba pula, ia harus menerima perintah untuk menyerahkan titipan Allah itu dari genggaman tangannya dengan penuh keikhlasan. Sebagai orang yang taat, ia pun penuhi perintah Allah swt, setelah ia berdialog/musyawarah dengan anaknya, Ismail, calon untuk diqurbankan. Ada tiga pesan Ismail kepada ayahnya: (1) Wahai ayahku! pisau yang engkau pakai hendak lah ditajamkan supaya dapat mempercepat proses kematianku; (2) Tangan dan kakiku hendak lah diikat kuat-kuat sehingga pakaian ayah tidak kena percikan darahku; (3) Salam hormat untuk ibuku. Dialog itu diungkapkan oleh Allah di dalam Alquran, Surah Al-Shafât ayat 102:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يـبُنَيَّ اِنِّيْ اَرَى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَادََا تَرَى قَالَ ياَبَتِ افْعَلْ مَاتُؤْمَرُ سَتَجِدُ نِيْ اِنْشَآءَ اللّـهُ مِنَ الصّبِرِيْنَ.
Maka tatkala anak itu sudah sanggup membantunya, Ibrahim berkata, Hai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku diperintahkan oleh Allah untuk menyembelihmu. Maka bagaimana kah pendapatmu ? Ismail menjawab; wahai ayahku, lakukan lah apa yang diperintahkan oleh Allah kepadamu ! akan kamu dapati aku insya Allah termasuk orang-orang yang sabar.
Inilah dialog antara ayah dengan anaknya, antara generasi tua dengan generasi muda, antara pemimpin dengan yang dipimpin, antara pemerintah dengan yang diperintah, dalam nuansa demokrasi yang transparan, kendati dalam kondisi psikologis yang paling sulit dan mengharukan bagaimana pun, apa yang dialami oleh Nabiy al-Lâh Ibrahim dan keluarganya as. Dalam situasi kejiwaan yang demikian kritis dan tak terhindarkan, yaitu peristiwa Nabiy al-Lâh Ibrahim menyembelih anaknya (Ismail) mutlak terabadikan di dalam Alqur’an al-Karim.
Di saat detik terakhir, mata tajam pisau tergenggam menyentuh leher pasrah Ismail, datang lah kemaharibaan Ilâh Rabb yang dengan kemaha kuasaanNya, sejarah terhenti dalam bentuk yang lain. “Nabi Ibrahim as. lewat teruji, Ismail (anaknya) terbukti sabar”.
Petunjuk kehidupan sejarah kemanusiaan ini pertanda bahwa akan datang perintah/rahmat Allah swt. yang lain pada saat-saat yang kritis untuk menetralisir dan meringankan beban psikologis mereka, sekaligus mengangkat derajat serta mengharumkan nama Ibrahim dan Ismail as. bagi generasi dahulu, kini, dan yang akan datang. Firman Allah dalam Alquran, Surah Al-Shafât ayat 107:
وَفـَد َيـْنـهُ بـِذ ِبْـحٍ عـَظـِيـْمٍ.
Dan kami tebus Ismail dengan seekor sembelihan yang besar.
Peristiwa penyembelihan tersebut, merupakan puncak proses ujian keimanan yang membentuk dan menjadikan Nabiy al-Lâh Ibrahim dan Ismail sebagai manusia yang memiliki iman yang berproses mencapai taqwa. Karena itu ia menjadi pemimpin masa depan karena adanya kualitas amaliah yang mengagumkan sebagaimana janji Allah dalam Alquran, Surah Maryam ayat 50:
وَوَهـَبْنَا لَهُمْ مِنْ رَحْمَتـِنَا وَجَعـَلـْنَالَهـُمْ لِسَانَ صِدْقٍ عَلِيًّا.
Dan Allah melimpahkan rahmat kepada Nabiy al-Lâh Ibrahim dan keluarganya (anak dan isterinya). Allah menjadikan nama mereka harum menjulang tinggi.
Dari peristiwa pelaksanaan qurban yang dilakukan oleh Nabiy al-Lâh Ibrahim as. dapat dipahami bahwa berqurban (penyembelihan hewan) yang didasari oleh keikhlasan yang tulus untuk mencapai keridhaan Allah merupakan proses keimanan untuk mencapai perilaku taqwa.
Peristiwa pelaksanaan penyembelihan hewan qurban bila dianalisis secara keimanan maka dapat dikatakan bahwa hewan qurban bersimbolkan hawa nafsu sehingga merupakan penyem-belihan hawa nafsu. Karena itu, hawa nafsu yang tersembelih dan/atau terkendali berarti pada saat itu iman berproses melewati tahapan-tahapan ujian yang berakhir dengan terbentuknya perilaku manusia taqwa. Allah berfirman dalam Alquran:
اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُتْرَكُوْا اَنْ يَقُوْلُوْا امَنَّا وَهـُمْ لاَيـُفـْتَنُوْنَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan: “kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?
اللَّهُ ا َكْـبَــرُ اللَّهُ اَكْـبَــرُ‎ اللَّهُ اَكْــبَــرْ وَ َلِلّـهِ اْلحَـمْـدُ
Dari dua kasus Peristiwa pengorbanan di atas, bila dilihat dari aspek hukum, sosial politik, ekonomi dan sosial budaya maka dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan penduduk yang mendiami negara republik Indonesia sebagai berikut.
1) Aturan hukum yang telah ditetapkan oleh Allah keberla-kuannya kepada manusia (ciptaanNya), maka manusia tidak mempunyai pilihan kecuali melaksanakan perintah dimak-sud.
2) Hukum Allah yang diperuntukkan kepada manusia merupakan hukum yang cocok bagi kehidupan manusia sebagai hamba dari Allah Swt. Sebaliknya, bila manusia memilih hukum selain hukum yang dibuat oleh Allah Swt., berarti bagaikan ikan yang memilih hidup selain di dalam air, sehingga ia pasti akan tersiksa kalau ia belum mati;
3) Kesadaran hukum yang dimiliki oleh manusia mutlak diperlukan dalam pencapaian tujuan hukum yaitu keseim-bangan dan kesepadanan yang bersimbolkan keadilan
4) Habil (anak Adam As yang patuh kepada hukum) tampak dalam bentuk pengorbanan harta dan jiwanya untuk mencapai keridhaan Allah Swt. Pengorbanan jiwa mencer-minkan tidak melakukan perlawanan kepada kakaknya. Sebab, bila ia melakukan perlawanan maka berlaku dalil hukum yang diungkapkan oleh Allah Saw:
اْلـقَـا تِـلُ وَاْلـمَـقْـتُـوْ لُ فِى الـنَّـا رِ
Orang yang membunuh dan dibunuh (berkelahi) keduanya berada dalam neraka. Hal itu, berarti nilai-nilai Deklarasi Malino bagi penduduk yang mendiami Propinsi Sulawesi Tengah akan terlaksana yang memulihkan kerukunan dan keamanan. Sebab, proses hukum bagi yang melakukan kejahatan akan menda-patkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.

5) Dialog antara ayah dengan anaknya, antara generasi tua dengan generasi muda, antara pemimpin dengan yang dipimpin, antara pemerintah dengan yang diperintah, dalam nuansa demokrasi yang transparan mencerminkan bentuk demokrasi yang dijiwai oleh masing-masing hati nurani yang tunduk kepada perintah Allah Swt. Selain itu, menunjukkan bahwa semua manusia dihadapan hukum sama kedu-dukannya. Karena itu, “orang tertentu” yang kebal hukum di negara republik Indonesia segera ditiadakan oleh negara dalam arti penerapan asas hukum yang biasa disebut opportunitas segera ditiadakan atau dibumi hanguskan karena bertentangan dengan hukum Allah Swt, yaitu hukum yang yang dibuat oleh Pencipta manusia
6) Dialog Nabiyullah Ibrahim dengan keluarganya (Ismail dan ST. Hajar) menggambarkan keberhasilan seorang kepala keluarga dalam menanamkan nilai-nilai agama kepada keluarganya sehingga patuh terhadap perintah orangtuanya dan sekaligus tercermin kepatuhannya kepada Allah Swt.
اللَّهُ ا َكْـبَــرُ اللَّهُ اَكْـبَــرُ‎ اللَّهُ اَكْــبَــرْ وَ َلِلّـهِ اْلحَـمْـدُ
Kesimpulan dari Dialog yang telah disebutkan, sepatutnya dibudayakan oleh penduduk yang mendiami negara republik Indonesia pada umumnya dan khususnya ummat Islam Indonesia termasuk yang mendiami Sulawesi Tengah, agar kita semua terhindar dari penyakit hati yang sangat berbahaya, sombong, tamak dan hasad. Rasulullah saw. bersabda: “Hati-hati lah kamu dari sifat sombong karena Iblis telah terdorong oleh kesom-bongannya sehingga tidak mau bersujud kepada Adam as, dan hati-hati lah kamu dari sifat tamak karena Adam telah terdorong oleh ketamakannya atas rayuan Iblis, sehingga ia memakan buah pohon terlarang, dan hati-hati lah kamu dari sifat hasad karena anak Adam terdorong oleh irihatinya atas kebiasaan syaithan sehingga membunuh saudara kandungnya.
Ketiga sifat (sombong, tamak, dan hasad) itu merupa-kan embrio (bibit) dari semua dosa dan pelanggaran yang telah terinjeksi ke dalam pikiran-pikiran dan perasaan insan muslim pada persaingan bebas tak terkendali dari nilai-nilai Ilahiyah. Medernisasi pasaran bebas nilai, menawarkan spekulasi nilai-nilai relegiusitas keagamaan dan kebudayaan yang bisa melun-turkan perekat keimanan ummat Islam, bila nafsu keserakahan tidak mampu dikendalikan oleh perilaku keimanan. Karena itu, Iklim dialog sangat diperlukan untuk memacu kreativitas, membangkitkan motivasi kerja dalam memasyarakatkan nilai-nilai hukum dan demokrasi yang dijiwai oleh keimanan.
اللَّهُ ا َكْـبَــرُ اللَّهُ اَكْـبَــرُ‎ اللَّهُ اَكْــبَــرْ وَ َلِلّـهِ اْلحَـمْـدُ
Dari peristiwa proses pendidikan yang dialami oleh Nabiy al-Lâh Ibrahim as. Sangat lah sulit rasanya kita mengembangkan ide yang ada di kepala kita, jika di dalam diri setiap muslim masih terdapat sejumlah penyakit hati yang tidak mampu diobati oleh dokter ahli apapun, kecuali diri kita masing-masing dan Allah swt. Yang Maha Tahu. Sesungguhnya Allah Maha Menerima Taubat hamba-hambaNya yang betul-betul mau bertaubat dengan taubat nashûhah.

Akhirnya, mari lah kita merenungkan kembali kepada peristiwa-peristiwa yang dilalui oleh Nabiy al-Lâh Ibrahim as, dan mengambil sebagai pelajaran untuk meningkatkan kualitas penegakan hukum dan demokrasi yang dijiwai oleh nilai-nilai keimanan kita. Berdasarkan semua itu, dapat dipetik bahwa perjuangan untuk meningkatkan kualitas kesadaran hukum dan kesadaran demokrasi yang dijiwai oleh kesadaran keimanan yang kita miliki mesti melalui pengorbanan atau berqurban.
Marilah kita sejenak menundukkan kepala dan menghadapkan hati kita kepada Allah Yang Maha Rahman dan Rahim, semoga semua amal ibadah kita dapat mengangkat derajat kualitas kesadaran hukum dan demokrasi yang dijiwai oleh nilai-nilai keimanan kita sehingga mencapai status “taqwa”, yaitu bahagia di dunia dan bahagia di akhirat. amien.
Ya Allah, ya Tuhan kami ! kami memohon kepada Mu seperti yang dimohonkan oleh Nabiyullah Ibrahim dahulu ketika mengucapkan do’a.
Ya Allah Rabb al-‘Alamin ! jadikanlah negeri ini mampu melaksanakan “Deklarasi Malino” yang dapat mengakhiri pertikaian di antara hambaMu dan jauhkanlah kami dan keluarga kami dari golongan yang tidak mampu melaksanakan hukum dan demokrasi yang Engkau ridhai
Wahai Tuhan kami ! Kami panjatkan puja dan syukur kehadiratMu, karena Engkaulah memberikan ketabahan dan kesabaran, kemampuan lahir-bathin, kepada kami dalam menja-lankan tugas, membangun persatuan dan kesatuan dalam mengisi kehidupan reformasi yang di dambakan oleh penduduk yang mendimi negeri ini. Semoga hasil reformasi itu tetap dalam keridhaanMu Ya Allah.
Allahumma Ya Allah, jadikanlah hati kami bersih dari sifat-sifat irihati dan dendam di antara sesama kami dan ikhlas saling memaafkan sesama manusia dari kesalahan sebagai realisasi kualitas keimanan kami. Jadikanlah putra-putri bangsa kami sebagai penerus cita-cita para pejuang syuhada yang telah mendahului kami menghadap kehadiratMu, dan berikanlah kami kemampuan lahir-bathin untuk menjadi khalifahMu di bumi ini.
Ya Allah, Ya Tuhan Kami; tingkatkanlah keimanan kami sebagai penerus dalam melaksanakan pembangunan “Otonomi Daerah” dan jadikanlah ketakwaan kami sebagai landasan pengabdian melalui tugas-tugas pembangunan dalam mempersiapkan masyarakat yang adil dalam kemakmuran dan makmur dalam keadilan.
Allahumma Ya Allah, Kiranya Engkau berkenan menerima do’a kami sebagaimana Engkau menerima do’a para Nabi dan RasulMu
اللَّهُمَّ اغـْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ والْمُسْلِمَا تِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمُ اْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ، وَقَاضِيَ الْحَجَا تِ. اَللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهـْلَكَ الْكـُفَّارِ وَالْمُشْرِكـِيـْنَ. رَبـَّنَا تـَقـَبـَّلْ مِنَّا إِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. رَبَّنَا اتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ اَمَّا يَصِفُوْنَ. وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ. وَالْحَمْدُ لِلَّـهِ رَبِّ الْعلَمِيْنَ.
وَاَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّـهِ وَبَرَكَاتُهُ

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar