Minggu, 12 Juli 2009

MENUNTUT ILMU MERUPAKAN KEWAJIBAN ASASI MANUSIA

Prof Dr H Zainuddin Ali, MA

الـسَّـــلامُ عَـلَـيْـكُـمْ وَرَحْــمَــةُ اللــه وَبَـرَكَاتُـــه
اَلْحَمْدُ‎‎ِ‎للهِ الّذِى عـَلـّمَ بِاْلقـَلَمِ عـَلـّمَ اْلإ نْسَانَ مَالَمْ يَعْلَمْ.اَشْهدُاَنْ لاِالَهَ اِّلاللهُ اْلوَا حدُا لـقَهّا رْ،وَاَشْهـَدُا َنَّ مُحَمَّدًاعـَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّى وَسَلِّمْ عـَلَى مُحَمَّدٍ وَعـَلَى آلِهِ وَاَصْحَا بِهِ اَجْمَعـِيْنَ.
أَمَّابَعْدُهُ ، فـَيَا عـِبَا دَ اللّـهِ اِتـَّقـُوا اللّـهَ حَقَّ تـُقـَاتـِهِ وَلاَتَمُوْتـُنَّ إِلاَّ وَاَنـْتـُمْ مُـسْلِمُوْنَ . قـال اللـه تَـعَـالَى فِى اْلـقُـرْ انِ اْلـكَـرِيْم. اَعُـوْذُ بِِـا اللَّهِ مِنَ الشَّيْطَـانِ الرجيم. بِــسْـمِ اللَّهِ الـرَّحْمـَنِ الـرَّحـِيـمِ . . . يـَرْفَـعِ اللَّهُ الـَّذ ِيـنَ ا َمـَنـُوا مـِنـْكـُمْ وَالـَّذ ِيـنَ أُوتـُوا الـْعـِلـْمَ دَرَجَاتٍ... وََقا ل اَيـضًـا نَـبِىُ اللَّهُ مُحَمَّد صَلِّىاللَّه عَـلَـيْهِ وَسَلِّمْ اُطـْلـُبُ اْلـعِـلـْمُ وَلـَوْ بـِا لســِّيـْنِ. صَدَ قَ اللَّه ا ْلعَـظِـيْم وَ صَدَ ق َقَوْلَهُ مُحَمَّد رَسُولُ اللَّه صَلِّىاللَّه عَـلَـيْهِ وَسَلِّمْ
JAMA’H JUM’AT RAHIMAِِِِKUMULLAH
Pertama-tama, marilah kita bersama-sama memanjat-kan puja dan syukur kehadirat Allah Swt atas rahmat dan hidayahNya kepada kita sekalian sehingga kita datang menunaikan kewajiban kita yang juga merupakan kebutuhan primer dalam menjalani hidup dan kehidupan di dunia, yaitu shalat Jum’at. Demikian juga mari kita mengirimkan salam dan taslim kepada junjungan kita Nabiullah Muhammad SAW. sebagai Nabi yang terakhir diutus oleh Allah Swt untuk memberi petunjuk kepada ummat manusia.
JAMA’H JUM’AT YANG BERBAHAGIA
Judul khotbah kita hari ini adalah "Menuntut Ilmu pengetahuan Merupakan Kewajiban Asasi bagi setiap Manusia”. Alqur'an sebagai sumber pertama dan utama ajaran agama Islam mengandung perintah untuk menuntut ilmu pengetahuan bagi setiap manusia. Hal itu menunjukkan bahwa menuntut ilmu pengetahuan merupakan kewajiban asasi bagi setiap manusia. Karena itu ayat Alqur'an yang pertama diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabiullah Muhammad saw. adalah yang berkaitan menuntut ilmu pengetahuan. Allah berfirman di dalam Alqur’an Surah Al-A’laq: 1-5 sebagai berikut.
اقـْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ - خَلَقَ الإِْنْسَانَ مِنْ عـَلَق ٍ - اقْـرَأْ وَرَبُّكَ الاْ َكْرَم - الَّذِي عَلَّمَ بِالْـقـَلَم ِ- عـَلَّمَ الإِْنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
ِArtinya:
Bacalah dengan nama Tuhan yang menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah ! dan Tuhanmulah yang termulia. Yang mengajar dengan pena. Mengajar manusia apa yang ia tidak tahu.
Kata membaca, mengajar, dan pena pada ayat tersebut, dapat diketahui secara jelas antara hubungan kata-kata itu, yaitu erat sekali dengan ilmu pengetahuan. Selain itu, terkandung pula rahasia penciptaan manusia, siapa yang menciptakannya dan dari apa ia diciptakan. Ilmu yang mendalam sekali. llmu tentang asal usul manusia dan dasar-dasar dari segala dasar.
Selanjutnya, ayat itu datang bukan dalam bentuk pernyataan, tetapi dalam bentuk perintah, tegasnya perintah bagi setiap manusia untuk mencari atau menuntut ilmu pengetahuan Perintah yang dimaksud oleh ayat Alqur'an di atas, diperjelas lagi oleh hadis Nabi Muhammad Saw. bahwa Ilmu pengetahuan itu dicari bukan hanya di masa kecil dan muda saja, melainkan sampai dengan di masa tua. Muhammad Rasulullah SAW bersabda:
اُطـْلـُبُ اْلـعـِلـْمُ مـِنَ اْلـَمهـْدِ ا ِلـَى الّلـْهـدِ
Artinya:
Tuntutlah ilmu pengetahuan: mulai dari masa diayun sampai ke masa akan masuk liang lahat.
Hadis tersebut mengandung konsep yang saat ini dianggap modern, yaitu pendidikan seumur hidup; pendi-dikan tidak harus berhenti di bangku sekolah tetapi dilanjut-kan walaupun sudah selesai dari studi formal. Jenjang pendidikan formal dalam menuntut Ilmu pengetahuan saat ini adalah S1, S2 dan S3 dan bukan hanya di tempat yang dekat melainkan kalau perlu orang mengembara ke tempat yang jauh. Hal itu sesuai hadis Rasulullah Saw.
اُطـْلـُبُ اْلـعِـلـْمُ وَلـَوْ بـِا لســِّيـْنِ
Artinya:
Tuntutlah ilmu pengetahuan walaupun tempat menuntut ilmu pengetahuan itu sejauh negeri Cina.
Di zaman Nabi Muhammad SAW pada permulaan abad ke VII Masehi negeri yang terjauh di kenal di Arabia adalah Cina tempat asal barang-barang mewah seperti kain sutera dan porselin yang diperdagangkan secara interna-sional antara Timur dengan Barat. Negeri Cina dikenal dengan kemajuan industrinya dan bukan sebagai negeri yang maju keagamaannya. Karena itu, ilmu yang dimaksud dalam hadis di atas bukanlah ilmu keagamaan tetapi ilmu keduniaan yang di dalamnya banyak menggunakan penalaran (akal pikiran).

JAMA’H JUM’AT RAHIMAKUMULLAH
Berdasarkan Firman Allah Swt dan Hadis Rasulullah di atas, maka dapat dipahami bahwa eksistensi manusia Indonesia yang dipersiapkan saat ini untuk menghadapi tantangan zaman yang silih berganti adalah manusia yang mempunyai ilmu pengetahuan dan nilai-nilai budaya yang sesuai dengan ajaran agama. Nilai-nilai budaya yang baru hanya dapat dimiliki oleh bangsa Indonesia bila semua warga masyarakat termasuk penduduk yang mendiami wilayah Kabupaten Toli-Toli mendapat kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan. Karena itu, pendidikan dalam ajaran agama Islam merupakan modal dasar untuk mempertahankan eksistensi kehidupan manusia sesuai pertumbuhan dan perkembangan zaman yang silih berganti berdasarkan pola fikir manusia. Hal itu berdasarkan Firman Allah dalam Alqur’an surah Al-Isra: 36 yang berbunyi sebagai berikut.
وَلا َتـَقـْفُ مَا لـَيْسَ لَـكَ بِـهِ عـِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالـْبَصـَرَ وَالـْفـُؤَادَ كـُلُّ أ ُولَـئِكَ كَانَ عـَنْهُ مَسْئُولا ً
Artinya:
Janganlah kamu berhenti menuntut Ilmu pengetahuan apa saja yang kamu belum memiliki. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan penciuman akan dimintai oleh Allah pertanggungan jawab mengenai peng-gunaannya…



HADIRIN JAMAAH JUM’AT RAHIMAKUMULLAH
Perintah Allah tersebut merupakan dorongan bagi setiap warga negara yang beragama Islam agar berusaha menuntut Ilmu pengaetahuan. Sebab, hanya ilmu pengetahuan yang didasari oleh keimanan sehingga seseorang dapat mencapai atau memperoleh derajat yang tinggi. Hal itu, sesuai petunjuk Alqur’an yang menjelaskan sebagai berikut.

. . . يـَرْفَـعِ اللَّهُ الـَّذ ِيـنَ ا َمـَنـُوا مـِنـْكـُمْ وَالـَّذ ِيـنَ أُوتـُوا الـْعـِلـْمَ د َرَجَاتٍ ...
Artinya:
Allah mengangkat derajat orang-orang beriman yang berilmu pengetahuan beberapa derajat ….
Ayat tersebut menunjukkan kepada kita bahwa manusia beriman dan berilmu pengetahuan lebih tinggi derajatnya dari manusia beriman yang tidak berilmu pengetahuan. Manusia beriman dan berilmu pengetahuan lebih banyak manfaatnya terhadap sesamanya bila diban-dingkan dengan manusia beriman yang tidak mempunyai Ilmu pengetahuan Karena itu, perlu kita mengetahui dan memahami bahwa menuntut ilmu pengetahuan adalah kewajiban asasi, kewajiban mendasar bagi setiap manusia. Sebab, bila Pencipta manusia memberi perintah kepada ciptaannya berarti ciptaannya wajib mengikuti perintah dimaksud.

Selain itu, perlu diketahui dan dipahami bahwa implementasi hadis Nabiyullah mengenai tempat menuntut Ilmu pengetahuan di negeri Cina atau negeri yang jauh (meninggalkan orangtua, kerabat dan sebagainya) menun-jukkan bahwa yang demikian tidak ada tempat menuntut ilmu di negeri kita atau di wilayah Kabupaten Toli-Toli. Misalnya: disiplin ilmu atau program studi yang kita ingin pelajari adalah ilmu Kedokteran sehingga kita harus berang-kat ke Univ. Hasanuddin di Makassar atau ke Univ. Indonesia di Jakarta. Namun, bila disiplin Ilmu pengetahuan yang kita ingin kaji atau mendalaminya sebagai contoh dapat disebut misalnya: Ilmu Hukum, Ilmu Politik, Ilmu ekonomi, Perikanan, Pertanian, Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan maka tidak ada salahnya bila kita memilih tempat pendidikan itu di Universitas Madako di Toli-Toli. Sebab, Kurikulum pendidikan yang dipakai di Universitas Madako sama dengan di tempat lainnya. Adapun persoalan kepintaran bagi seorang mahasiswa atau sarjana biasanya amat ditentukan oleh yang bersangkutan termasuk cara-cara belajaranya. Namun yang paling penting adalah ilmu yang kita miliki adalah mendapat ridha dari Pemilik Ilmu, yaitu Allah SWT yang juga merupakan pencipta manusia.
HADIRIN JAMAAH JUM’AT YANG BERBAHAGIAN
Demikianlah Hutbah Jum’at yang sempat saya sampaikan pada kesempatan ini, mudah-mudahan ada manfaatnya bagi kita sekalian dan marilah kita berdo’a kepada Pemilik Ilmu agar supaya selalu melapangkan dada dan fikiran kita untuk menuntut ilmu pengetahuan yang diridhai-Nya. Amien Ya Rabbal ‘Alamin.
بَا رَكَ اللّـهُ لِي وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْم وَنَـفَعْنِى وَاِيَّا كُمْ بِمَا فِـيْهِ مِنْ اآيَـاتِهِ وَالذِّ كْرِاْلحَا كِيْم اَقُوْلُ قَوْ لِي هَـذَا وَاسْـتَـغْـفِـرُالله لِى وَلَكُـْم فَـسْـتَـغْـفِـُرهُْ اِنَـهُ هُـوَا لغَـفُـْورٌ الـرَّحِـيْـم .




MEMBANGUN MASYARAKAT RELIGIUS
DI WILAYAH KABUPATEN TOLI-TOLI
DI ZAMAN REFORMASI

اَلْحَمْدُ‎‎ِ‎للهِ الّذِى عَلّمَ بِاْلقَلَمِ عَلّمَ اْلإ نْسَانَ مَالَمْ يَعْلَمْ .اَشْهدُاَنْ لاِالَهَ اِّلاللهُ اْلوَا حدُالقَهّارْ ، وَاَشْهَدُاَنَّ محمدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، . اَللَّهُمَّ صَلِّى وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ. أَمَّابَعْدُهُ، فَيَا عِبَادَ اللّـهِ اِتَّقُوا اللّـهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْن امّا بعد فيا معا شرا لمسلمين الخاضرون ، اتّقوالله حق تقاته اواتّقالله مستطعتم، فقال تعال فى القرا ن العظيم: ولوانّ اهل القرى امنوا واتّقوا لفتحنا عليهم بركت من السمآء والأ رض ولكن كذّبوا فأخذناهم بما كانوا يكسبون
HADIRIN JAMAAH JUM’AT RAHIMAKUMULLAH
Pada hari Jum’at ini, mari kita bersama-sama mendekatkan diri, menyatukan nurani kita dengan zat yang melindungi dan senantiasa membimbing hidup kita, yakni Allah swt. Selaku hamba Allah, upaya mendekatkan diri kepada Allah merupakan ikhtiar yang konsisten dengan ketakwaan yang selama ini kita bangun, juga merupakan wujud dari tasyakkur kita ke hadapan-Nya. Betapa banyak rahmat, nikmat, dan pertolongan, yang Allah berikan kepada kita setiap saat, baik disadari maupun tidak. Jika dikalkulasi, pasti kita tidak bisa menghitungnya. Karena itu, tidak ada jalan lain bagi kita selain harus mensyukuri realitas hidup ini dengan ketulusan dan kesadaran, bahwa semua ini telah menjadi kehendak-Nya (irâdatullah). Akan tetapi, harus diingat bahwa kenyataan yang ada sekarang ini, baik kenya-taan kehidupan sosial, politik, budaya, ekonomi, hukum maupun lainnya bukanlah kenyataan yang ideal, bukan kehendak akhir Allah swt. Sungguh masih teramat banyak kelemahan, kekurangan, dan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan di dalam menata dan menjalani tata aturan Allah swt. (syari’at) di dunia ini.
Tidak bisa diingkari bahwa kedzaliman, kemaksiatan, kesewenang-wenangan, ketidakadilan, kerakusan, kesera-kahan, kecongkakan serta kemungkaran yang masih merajalela di tengah-tengah kehidupan kita. Aktor dari semua kejahatan itu mungkin saja adalah diri kita sendiri, dan mungkin juga orang lain. Sadar atau tidak, kita pun acapkali terlibat dan melakukan hal-hal tersebut. Mari kita renungkan protes malaikat, tatkala Allah swt. hendak menjadikan Adam AS sebagai khalifah Allah di muka bumi ini.
Malaikat berkata, “Mengapa Engkau ya Allah, hendak menjadikan khalifah di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah: 30 sbb.
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعـِلٌ فِي الأَْرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ
Artinya:
Ingatlah ketika Tiuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui.” [QS. Al-Baqarah: 30]

Berdasarkan Firmah Allah tersebut, pada kesempatan yang berbahagia ini, saya selaku khatib Jum’at meng-ingatkan diri sendiri dan mengajak kepada hadirin untuk melakukan refleksi, mawas diri, dan secara bersama-sama melakukan reformasi (perbaikan-perbaikan) dan trans-formasi (perubahan-perubahan) sosial ke arah yang lebih baik. Dalam bahasa agamanya, “menggalakkan amar ma’ruf dan nahî munkar”. Pada dimensi ini lah kiranya kita selalu dituntut untuk senantiasa meningkatkan kualitas ketakwaan kita, yakni takwa dalam arti yang sebenar-benarnya.
JAMAAH JUM’T RAHIMAKUMULLAH
Takwa yang sebenarnya, bukan hanya memihak pada kepentingan pribadi, seperti menjalani spiritual keagamaan secara khusyu’ dan istiqâmah, melainkan juga memfung-sikan diri kita sebagai pelaku perubahan sosial tadi. Kita harus ingat ayat dalam S. Al-Nahl: 90 yang berbunyi:
اِنَّ اللَّـهَ يَأْمُـرُبِاْلعَـدْلِ وَاْلإِحْـسَانِ وَإيْـتَاءِ ذِىاْلقُرْبَى وَيَنْهَى عَـنِ اْلفَحْشَاءِ وَاْلمُنْكَرْ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذْ كُرُون.
Artinya:
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) menegakkan dan berjuang untuk keadilan, berbuat kebajikan, mendis- tribusikan kekuasaan dan kekayaan kepada sesama (kerabat). Allah melarang berbuat keji, membiarkan dan melindungi kemunkaran, dan menebarkan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kamu agar kamu dapat mengambil sebagai peringatan.” [S. Al-Nahl:90].
Demikian itulah sebagian dari perintah Allah yang secara tegas menggunakan kata ya’muru = memerintahkan. Isi ayat tadi, secara substantif adalah bagian yang tidak terpisahkan dari agenda kita untuk mewujudkan diri sebagai orang yang muttaqîn.
Berkenaan dengan ayat yang disebutkan terakhir tadi, kiranya kita perlu kembali lagi melihat misi yang dibawa oleh Nabyullah Muhammad SAW sejak kelahirannya 14 abad yang lalu. Tidak perlu diperdebatkan lagi, Agama Islam di dalam ajaran-ajarannya, identik dengan keadilan. Konsep sentral Islam selain tauhid adalah keadilan. Fakta menunjukkan bahwa Islam lebih dari sekedar sebuah agama formal. Islam merupakan risalah yang agung bagi transfor-masi sosial, pembebasan, dan tantangan bagi kepentingan-kepentingan pribadi.
Semua ajaran Islam bermuara pada terwujudnya suatu kondisi kehidupan yang adil. Penekanan perintah yang banyak dinyatakan Alquran pada shalat (tauhid) dan zakat (keadilan) atau infaq misalnya, merupakan bukti yang tidak dapat dibantah atas misi tersebut. Dalam kebanyakan ayat Alquran, shalat tidak pernah disebut tanpa diiringi dengan zakat atau infaq. Sebagai contoh diungkapkan dua ayat di dalam Alqur’an: Surat Al-Baqarah: 277 dan Surat Al-Ra`d: 22.
.إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَءَاتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عـِنْدَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ
Artinya:
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak (pula) bersedih hati (cemas).” [QS. Al-Baqarah: 277].

وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلاَنِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ
Artinya:
Dan orang-orang yang sabar/tabah karena mencari keridaan Tuhannya, mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan, serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat (kampung) kesudahan (yang baik).” [QS. Al-Ra`d: 22].

Zakat sendiri, seperti digariskan Alquran yang kemudian diundangkan secara ilmu ketatanegaraan di Indonesia (UU No. 38 Tahun 1999, dimaksudkan untuk mendistribusikan kekayaan kepada fakir dan miskin, untuk membebaskan budak-budak agar mendapatkan kemerde-kaannya, melepaskan lilitan dan tindasan bagi mereka yang berhutang, dan memberikan kemudahan akselarasi bagi ibnu sabîl. Sebagaimana dinyatakan dalam Alquran :
إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
Artinya:
Sesungguhnya shadakah-shadakah itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”[QS. Al-Taubah: 60].
HADIRIN JAMAAH JUM’AT YANG BERBAHAGIA
Selain itu, zakat merupakan potensi ekonomi atau pintu pemasukan modal (entry point) bagi umat Islam, bila benar-benar hendak menegakkan amanat kekhalifahan dalam mewujudkan keadilan dalam kehidupan sosial. Di dalam ajaran zakat misalnya: Islam bukan saja telah menun-jukkan keterlibatannya yang bulat pada tata kehidupan masyarakat manusia yang sehat, adil, dan demokratis, tetapi sekaligus mencanangkan perekat kekuatan dalam kelemba-gaannya. Bukan sekedar itu, kehadiran Nabi Muhammad saw. sendiri membawa misi profetik, misi yang membe-baskan masyarakat dari berbagai sistem dan struktur yang melestarikan ketidakadilan.
Kita tahu masyarakat Arab ketika itu memang dikenal dengan sebutan jahiliyah. Bukan karena jahil dalam pengelolaan dan tataniaga kekayaan, melainkan pada nilai keadilan dari wujud kekayaan yang mereka miliki. Karena itu, maka langkah-langkah Nabi Muhammad saw. dengan ajaran-ajarannya itu dirasakan sebagai hal baru yang sangat revolusioner. Bagi masyarakat bisnis kota Mekah yang merasa kepentingannya terancam, mereka melakukan perlawanan kepada Nabi Muhammad saw. Begitulah yang dihadapi oleh Nabi Muammad saw. pada masanya.
Nabyullah Muhammad saw. dalam sejarah Mekah, ia sebagai orang pertama yang memikirkan proses perubahan yang terjadi secara serius. Ia sekaligus menjadi pemimpin terkemuka yang mampu mengartikulasikan teori yang sistematis dan masuk akal untuk memajukan masyarakat Mekah, baik pada tataran spiritualitas maupun teknis-pragmatis. Mesti begitu, visi dan pemikiran nabi dalam mengembangkan ajaran-ajarannya tidak semata-mata diten-tukan oleh situasi Mekah saja. Ajaran-ajarannya yang diekspresikan dalam idiom-idiom religio-spiritual, sangatlah universal. Bahkan, dalam pelaksanaannya menimbulkan restrukturisasi masyarakat secara radikal.

Nabi Muhammad saw. memang patut dinobatkan sebagai seorang revolusioner, baik dalam ucapan maupun perbuatannya. Ia bekerja demi perubahan radikal dalam struktur masyarakat pada masanya. Dengan inspirasi dan bimbingan wahyu ilâhiyah, menurut formulasi teologis, ia mengajukan sebuah alternatif tatanan sosial yang adil dan tidak eksploitatif, serta menentang penumpukan kekayaan di tangan segelintir orang. Alquran yang dibawanya, mengutuk orang-orang yang menimbun kekayaan, tidak menafkah-kannya di jalan Allah, serta meminta Nabi untuk memperingatkan mereka, bahwa hukuman yang berat menanti mereka. Ayat yang dimaksud secara tegas diutarakan:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الأَْحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلاَ يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
Artinya:
Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) sikasa yang pedih.”[QS. Al-Taubah: 34].

Melihat struktur ekonomi yang berlaku dalam masyarakat ketika itu, maka satu-satunya jalan untuk memberikan perlindungan bagi orang-orang yang lemah dan tertindas adalah memberi tanggung jawab kepada orang-orang kaya untuk membagikan kelebihan kekayaannya di jalan Allah, baik lewat zakat yang wajib hukumnya, maupun lewat jalur infaq, sedekah, maupun hibah. Itulah yang ditempuh oleh ajaran Islam dalam pemecahan problem ekonomi kerakyatannya. Itu pulalah wujud teologi pembe-basan dalam Islam. Teologi semacam itu agaknya menis-cayakan untuk dijadikan alternatif pada masa sekarang.
JAMAAH JUM’T RAHIMAKUMULLAH
Konsep penting lain dalam Islam adalah jihad, yang secara harfiyah berarti berjuang. Konsep ini juga perlu ditafsirkan dalam konteks teologi pembebasan. Dalam konteks ini, jihad mempunyai makna sebagaimana yang digariskan Alquran sebagai perjuangan untuk menghapuskan eksploitasi, penindasan, kedzaliman, ketidakadilan, serta dalam berbagai bentuknya. Perjuangan ini harus terus menerus diupayakan hingga pengaruh destruktif ini hilang sama sekali dari muka bumi. Dengan demikian jelas, Allah SWT menghendaki orang yang beriman agar berjuang secara total sehingga penindasan di muka bumi berhenti. Termasuk di dalam ajarannya adalah menuntut Ilmu pengetahuan. Seluruh ayat-ayat Alquran memang berse-mangatkan pembebasan manusia dari ekploitasi dan penindasan. Teologi pembebasan dalam Islam memang mendapatkan kekuatannya dari ajaran-ajaran Alquran yang demikian. Sebagai contoh dalam Surat Al-Maidah, ayat 8 yang artinya: “Hai Orang-orang yang beriman, jadilah orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu kepada suatu kelompok mendorong kamu untuk berprilaku tidak adil. Berlaku adil lah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Memberitahukan apa yang kamu perbuat.”[QS. Al-Mâidah: 8].
Jadi, keadilan merupakan kepentingan utama bagi teologi pembebasan Islam. Namun, manusia tidak akan mampu mencapainya bila mengabaikan Ilmu pengetahuan yang didasari oleh nilai-nilai keimanan. Teologi pembebasan berusaha menekankan kembali titik perhatian Islam yang paling essensial, yakni keadilan sosial dengan prioritas utama kelompok-kelompok lemah dan massa tertindas, pembentukan kembali masyarakat yang bebas dari kepen-tingan-kepentingan primordialistik.
Muaranya, teologi pembebasan mengarahkan pada terciptanya ‘masyarakat tanpa kelas’ dan ‘masyarakat religius’ yang menjadi tujuan sejati dari ‘masyarakat tauhid’. Karena itu, barangkali kita perlu mendengar upaya Ashgar Ali Engineer, seorang teolog pembebasan Islam dari India, tatkala merevisi konsep kafir dan mukmin yang meng-kaitkannya dengan missi profetis dan emansipatoris yang menjadi ruh Islam tadi. Kafir yang sesungguhnya menurut dia, adalah: “... orang-orang yang menumpuk kekayaan dan terus membiarkan kedzaliman dalam masyarakat serta merintangi upaya-upaya menegakkan keadilan dalam masyarakat ...”
Dengan demikian, bagi Ali Engineer, seseorang disebut mukmin sejati bukanah sekedar percaya kepada Allah, melainkan juga harus berjuang menegakkan keadilan, melawan kedzaliman dan penindasan atau membebaskan rakyat dari kebodohan. Dari sisi lain, dapat difahami bahwa: jika ia tidak berjuang menegakkan keadilan dan melawan kedzaliman serta penindasan, apalagi justeru mendukung sistem dan struktur masyarakat yang tidak adil, walaupun ia tetap percaya kepada Allah, dalam pandangan Ali Engineer, ia masih tergolong kafir. Ali Engineer juga mengatakan: “Orang kafir yang sesungguhnya adalah orang yang arogan (mustakbirîn) dan penguasa yang menindas, merampas, melakukan perbuatan-perbuatan salah, dan tidak menegak-kan yang ma’ruf, tetapi sebaliknya membela yang munkar.” Demikian juga sebaliknya: “Orang mukmin sejati bukan mereka yang hanya mengucapkan syahadat, melainkan juga dipersyaratkan melakukan perjuangan menegakkan keadilan bagi mereka yang tertindas dan lemah (mus-tadh’afîn), yang tidak pernah menyalahgunakan posisi kekuasaan mereka atau menindas orang lain atau merampas tenaga orang lain, yang menegakkan kebaikan dan menolak kejahatan.”

JAMAAH JUM’T RAHIMAKUMULLAH
Pada sisi lain, tidak dapat disangkal bahwa Islam yang kita terima ini adalah ‘Islam historis’, yaitu Islam yang menjelma melalui proses pergulatan sejarah manusia dalam segala dimensinya, sejak diturunkannya hingga hari ini di Indonesia. Penyebutan ‘Islam historis’ di sini, semata-mata untuk membedakan dengan Islam yang ‘suci’, yang tumbuh dan berkembang pada masa Rasulullah saw, terutama tatkala merespons realitas sosial, budaya, politik, dan ekonomi yang berkembang, selalu dikendalikan dan dibimbing oleh wahyu Allah swt. Karena itu, periode Nabi diyakini sebagai periode Islam yang ideal, tak ada cela, kesalahan, apalagi sekedar kekeliruan. Periode ini juga yang senantiasa dijadikan bahan refleksi dan sumber ke-Islaman untuk masa-masa berikut-nya. Bukan hanya Alquran yang ditetapkan sebagai sumber dari segala sumber, Sunnah Nabi pun harus menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari Islam. Dalam doktrin Islam, Al-Sunnah ditempatkan sebagai sumber kedua setelah Alquran. Islam historis, memang kaya dengan khazanah peradaban, kebudayaan, tradisi, imajinasi, dan segala hal, sehingga ada yang menggunakan kata ‘Islam’ sebagai label dan identitasnya, seperti negara Islam, politik Islam, budaya Islam, ekonomi Islam dan seterusnya, bahkan sebagian lainnya tanpa menggunakan nisbah apapun.
Kita meyakini, Islam adalah agama wahyu, karena itu, ia hanya bersumberkan pada Alquran dan Al-Sunnah. Sunnah dijadikan sumber karena diyakini bahwa jatidiri Muhammad saw. personifikasi dari wahyu juga, yang mampu menjelaskan Alquran secara benar dalam tataran realitas historis. Sehingga, bagi kita tidak ragu lagi Alquran dan penjelasannya, Al-Sunnah adalah monodualisme sumber Islam untuk segala ruang dan waktu.
Namun, perlu diingat bahwa keberadaan Nabi Muhammad saw. selaku personifikasi wahyu berada dalam ruang dan waktu tertentu. Beliau hidup, membentuk dan membangun ajaran-ajarannya setelah berinteraksi dengan kondisi, kultur, tradisi, politik, karakter alam masyarakat Arab yang sangat partikuristik. Sementara Alquran sebagai sistem nilai yang dijelaskan bersifat universal, lintas ruang dan waktu. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa Islam dibangun di atas dasar; dialektika doktrin (wahyu) yang universal dengan tradisi (realitas) yang partikular; nilai transendental dengan nilai imanental; kehendak Allah swt. dengan kebutuhan manusia. Dari sini kita bisa fahami bahwa: (1) Alquran dan Al-Sunnah merupakan sumber yang hidup, dinamis, dan siap untuk berinteraksi secara lintas ruang dan waktu, (2) Alquran dan Al-Sunnah perjalanan hidup Rasulullah saw. merupakan sinema kehidupan masa depan sepanjang zaman, yang harus dijadikan panutan bagi kehidupan sesudahnya, dan (3) memahami Alquran dan Al-Sunnah secara total, baik sebagai mashâdir (sumber) maupun manâhij (metodologi) Islam, tidak dapat mengabai-kan pemahaman antropologi, sosiologi, psikologi, dan semacamnya dari kehidupan Rasulullah saw.; karena kehidupan Rasulullah saw. adalah eksperimentasi sejarah manusia yang ideal sebagai khairan ummah.
JAMAAH JUM’AT RAHIMAKUMULLAH
Sejumlah gagasan Alqur’an yang dapat menyelamat-kan manusia yang di uraikan di atas, tidak mungkin terwujud tanpa melaksanakan kewajiban asasi sebagai manusia, yaitu menuntut Ilmu pengetahuan. Sebab, hanya ilmu pengetahuanlah yang berasaskan keimanan yang dapat mengantar manusia menuju kebahagiaan baik kebahagiaan di dunia maupun di akhirat kelak, Insya Allah.
Akhirnya, marilah kita koreksi kelemahan dan kekurangan diri kita sendiri, kemudian berupaya merefor-masinya secara sungguh-sungguh menuju jalan yang terbaik, jalan yang diridhahi oleh Allah swt, seraya memohon ampun dan petunjuk kepada-Nya.

اقول قولى هذا واستغفرالله العظيم لي ولكم ولوالديّ والوالديكم ولجميع المسلمين والمسلما ت والمؤمنين والمؤمنات فستغفروه انّه خوالغفور الرحيم









ALQUR'AN DAN KEBAHAGIAAN MANUSIA

اَلْحَمْدُ‎‎ِلُلّهِ حمدًا كثيرًا‎‎ كماامرْ'‎ فنتهوا‎ عما نهى عنه وَحذّر' اَشْهدُاَنْ لااله اِلالله اْلوَا حدالقَهّارْ' وَاَشْهَدُاَنَّ محمدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سيّدُاْلا بْرَارْ، اَلّلهُمَّ صلّ وَسَلّمْ على سيّدنا محمد وعلى اله وصحبه ومن تبع هداه الىيوم المحشر، امّا بعد فيا معا شرا لمسلمين الخاضرون ، اتّقوالله حق تقاته اواتّقالله مستطعتم، فقال تعال فى القرا ن العظيم: ولوانّ اهل القرى امنوا واتّقوا لفتحنا عليهم بركت من السمآء والأ رض ولكن كذّبوا فأخذناهم بما كانوا يكسبون )الاعرف)

Artinya:
Seandainya penduduk suatu negeri benar-benar beriman dan bertaqwa, maka akan kami limpahkan Berkah (rezki) dari langit dan bumi; tetapi mereka mendustakan ayat-ayat kami maka kami siksa mereka karena perbuatan tangan mereka sendiri.

JAMA’AH JUM’AT RAHIMAKUMULLAH

Saya selaku khatib pada hari ini, menjadikan Alqur’an surah al-A‘raf: 96 sebagai dasar pemikiran untuk merenung, menghayati, yang kemudian mengamalkan pesan dalam bentuk perintah dan menjauhi pesan dalam bentuk larangan di dalam Alqur’an. Pesan dimaksud dalam ayat tersebut, dapat diketahui dan dipahami, yang kemudian diamalkan, yaitu: manusia yang ingin mencapai kebahagiaan hidup (dunia dan akhirat) berarti mengamalkan perintah Allah di dalam Alqur’an sebagai cahaya yang terang dalam menjalani kehidupan sehingga mengetahui jalan yang baik menuju kebahagiaan. Sebaliknya, manusia yang ingin men-capai kebahagiaan hidup tetapi membelakangi petunjuk Alqur’an dan Alhadist sehingga gelap dalam perjalanan kehidupannya, yang kemudian terperosot di dalam kehidup-an (dunia dan akhirat) yang sengsara.
HADIRIN JAMAAH JUM’AT RAHIMAKUMULLAH
Masyarakat muslim yang mendiami wilayah Sula-wesi Tengah termasuk penduduk Kabupaten Toli-Toli, sudah mengetahui, bahwa ada 2 (dua) bencana menimpah daerah ini, yaitu: (1) 3 (tiga) kali kerusuhan (1998 dan 2000) di poso, dan (2) Gempa bumi di kepulauan Banggai. Kedua bencana ini, bila dihubungkan ayat tersebut, dapat berarti bencana itu terjadi karena adanya ulah tangan-tangan (perilaku) manusia.
Bencana pertama dimaksud, bila dikaji akan ditemukan bahwa penyebab utama kerusuhan itu adalah pelanggaran hak-hak Allah (manusia meminum minuman yang mema-bukkan (bir Bintang, minuman Cap Tikus, dan sebagainya) yang bertautan hak manusia. Namun, hak yang dominan adalah hak Allah sesuai Firmannya dalam Alqur’an surah Al-Maidah/5: 90.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَْنْصَابُ وَالأَْزْلاَمُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya mi-numan khmar (minuman yang memabukkan), berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji yang termasuk perbuatan syaithan, maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keuntungan.

Bencana kedua, Sulit diprediksi penyebabnya. Namun perlu diungkapkan bahwa di Banggai kepulauan terdapat paham atau aliran bila dilihat dari aspek aqidah, syari’ah, dan akhlak dapat disebut membelakangi cahaya Islam. Sebab, mereka mempunyai dua kalimat syahadat, yaitu:
اشهدان لااله الاالله واشهدانّ عليا امام الله1)
Artinya:
Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa sanya Aliyyan adalah Imamullah.2)

Ajaran tersebut, berdasarkan penyelidikan Muspida tahun 80-an sampai 90-an adalah menyalahi Aqidah, Syari’ah, dan Akhlak bagi orang Islam, sehingga H. Aliyyan bersama beberapa orang pengikutnya berkali-kali masuk rumah tahanan dan/ atau Lembaga pemasyarakatan. Namun demikian, Ketua MUI Kab. Luwuk Banggai mengung-kapkan bahwa kelompok (aliran) H. Aliyyan mempunyai kalimat Syahadat dalam dua bentuk, yaitu ada yang berlaku khusus (kelompoknya) dan ada yang berlaku umum3 . Syahadat yang dimaksud di atas, merupakan keberlakuan khusus bagi pengikutnya.
JAMAAH JUMA’AT YANG BERBAHAGIAN
Akhirnya, marilah kita mengoreksi perilaku kita mengenai aqidah, syari’ah, dan akhlak yang kita amalkan selama ini sehingga kita menjadikan Alqur’an dan Alhadist sebagai pedoman dan rambu-rambu dalam kehidupan kita dalam mencapai ridha oleh Allah Swt. Amien Ya Rabbal ‘alamin.
اقول قولى هذا واستغفرالله العظيم لي ولكم ولوالديّ والوالديكم ولجميع المسلمين والمسلما ت والمؤمنين والمؤمنات فستغفروه انّه خوالغفور الرحيم

















Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لله رَبِّ اْلعَا لَمِيْن وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلىَ اُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْن. اَشْهدُاَنْ لاِالَهَ اِّلاللهُ وَاَشْهَدُاَنَّ محمدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلّلهُمَّ صلّ وَسَلّمْ وَبَارِك عـَلَى مُحَمَّد وَعَـلَى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تبعَ هُدَاهُ اِلَىيَوْمِ الدين .فَقَا لَ َتَعلىَ فِىاْلقُرْآنِ اْلعَظِيْم انّ الله وَمَلَئِكَتَهُ يُصَلّوْنَ عـَلَى الّنِبى. يَا اَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا صَلّوْا عـَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمَا. اللَّهُمَّ اغـْفـِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ والْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمُ اْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعـْوَاتِ، وَقَاضِيَ الْحَجَاتِ. اَللَّهُمَّ أَعـِزَّ اْلإِسْلاَمِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلَكَ الْكُفَّارِ وَالْمُشْرِكِيْنَ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعـَلِيْمُ. رَبَّنَا اتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عـَذَابَ النَّارِ.
عِـبَادَ اللَّـهَ اِنَّ اللَّـهَ يَأْمُـرُبِاْلعَـدْلِ وَاْلإِحْـسَانِ وَإيْـتَاءِ ذِىاْلقُرْبَى وَيَنْهَى عَـنِ اْلفَحْشَاءِ وَاْلمُنْكَرْ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذْ كُرُون. فَاذْكُـرُوْالله اْلـعَـظِـيْـمَ يَـذْ كُرُكُـمْ وَسْـئَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُـعْـطِـكُمْ وَلِـذِ كْرُ اللَّـهِ أَ كْـبَرْ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّـهِ وَبَرَكَاتُهُ

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar